TIDAK ADA MANUSIA BODOH
Kata “Bodoh” terkadang sering didengar sebagai label
seseorang kepada orang lain yang dianggap memiliki kemampuan rendah terhadap pengetahuan
sesuatu. Dalam dunia pendidikan kata bodoh serigkali menjadi sasaran bagi
mareka yang memiliki tingkat prestasi kelas rendah atau mareka yang sama sekali tidak begitu
muncul saat belajar. Kalau merujuk pada ajaran agama, pada dasarnya manusia
diciptakan ke dunia bagaikan kertas putih yang tidak ada noda dan dosa(al-Hadits),
dan tentu juga belum memiliki pengetahuan apapun sehingga orang dewasa secara
tahap-pertahap mengajarkan ia menjadi manusia yang berilmu dan berkemampuan.
Coba renungkan, bukankah kita semua juga berasal dari manusia bodoh yang tidak
mengetahui apa-apa saat lahir kedunia ini? Bukankah para pakar, sarjana,
master, doctor bahkan professor sekalipun
yang dalam tingkatan akademik mareka berasal dari manusia yang tidak tahu
apa-apa juga? Bodoh pintar itu bedanya antara lebih awal tahu, baru tahu atau
belum mengetahui apa-apa yang dibicarakan atau mungkin belum cocoknya metode
saat ia belajar. Orang yang sudah mengetahui dan mendalami suatu bidang ilmu
dan menjadi otoritas ilmu tersebut baginya, bukankah ia juga pernah bodoh
sebagaimana orang yang belum mengetahui tentang ilmu tersebut? Sebagai contoh,
seseorang yang hobinya main bola secara otodidak dia temukan caranya sampai ia
menguasai, namun nilai sekolahnya dibawah rata-rata bukan berarti dia bodoh,
dalam pelajarannya mungkin ya namun di lapangan bola dia yang juaranya, begitu
juga sebaliknya dalam bidang yang lain. Kalau bodoh memang harus diakui, maka
ia bukan terletak pada individunya namun ia terletak pada cara dan sudut
pandang mana orang menilai.
Bagi yang pernah belajar ilmu fisika mungkin tidak
asing dengan yang namanya Newton, ia merupakan salah seorang anak dari sebuah desa
di Inggris yang mengalami penyakit asperger syndrome, salah satu jenis
penyakit autis. Bagi gurunya ia bukanlah anak yang bersemangat belajar,
dan di cap sebagai murid yang susah diajari, tapi lihat siapa sangka ia mampu
mengemparkan dunia dengan teori gravitasinya. Contoh lain misalnya, Winston
Churchill, saat mengikuti ujian bahasa latin untuk masuk SD ia hanya mampu
menulis judul, nama, nomor dan titik, ia sering kena hukum karena nilainya yang
buruk dan tidak menampakkan usaha untuk lebih baik, bahkan ia sempat tidak naik
kelas, namun siapa sangka pada tahun 1940, ia dilantik menjadi Perdana Menteri
(PM) Inggris, bahkan ia bukan hanya menjadi PM biasa namun mampu menjadi PM Inggris
yang legendaris, yang akhirnya berhasil meraih hadiah nobel yang
bergengsi. Atau sekarang mari kita renungkan kenyataannya, masih ingat
teman-teman kita dulu yang bintang kelas di MI, Mts, MA atau saat kuliah saat
ini apakah mareka menjadi orang-orang yang sukses diatas rata-rata? atau bahkan
mareka orang biasa?atau banyak yang gagal? Dan juga sebaliknya pada
mareka-mareka yang tidak begitu muncul. Begitu juga puncak kegemilangan Islam
dimulai dari orang-orang dan para sahabat, tabi’ tabi’in yang sebelum Islam
diturunkan mareka belum mengetahui apa-apa, dan lihat hasilnya Islam pernah
menguasai 2/3 belahan dunia ini, bahkan kebangkitan Eropa yang dikenal dengan renaisans
sekalipun ada pengaruh besar peradaban dan kejayaan Islam dibelakangnya. Pelabelan
kata “bodoh” kepada seseorang merupakan salah satu kesalahan besar
apalagi terjadi dalam dunia pendidikan. Dalam Islam, pada dasarnya pendidik itu
bagaikan tukang bengkel yang setiap saat harus siap menerima dan memperbaiki kenderaan
apapun jenis rusaknya, ia harus mampu mencari kerusakan dan menganalisis
penyebabnya serta memilih suku cadang yang tepat dengan kerusakan kenderaan
tersebut, sehingga sang pemilik kenderaan merasa puas menerima perbaikan dan
juga ikhlas membayar walau dengan harga yang sedikit lebih mahal, yang lebih
untung lagi kalau pemilik kenderaan memberitahukan ke teman-temannya yang lain
tentang bagusnya bengkel tersebut.
Begitu juga bagi pendidik, ia juga harus siap siapa
saja yang menjadi anak didiknya walau dalam bentuk karakter manapun, karena
dalam profesi ini telah diajarkan segala ilmu pendidikan mulai dari metode
mengajar, penelitian dan perkembangan peserta didik atau riset dan ilmu jiwa
bahkan ilmu-ilmu lainnya ditambah lagi dengan pengalamannya yang dapat menambah
wawasan si pendidik dalam memperbaiki peserta didik menjadi manusia cerdas,
sehingga masyarakat akan puas dengan kinerja pendidik seperti puasnya pemilik
kenderaan pada bengkel tersebut. Maka dalam hal ini penulis sedikit mengkritik
fenomena pendidikan kita saat ini yang berusaha memilah-milah anak yang
dianggap pintar dengan anak yang dianggap kurang pintar atau tidak pintar, yang
pintar belajar di kelas “A” misalnya sesama yang pintar sedangkan anak yang
kurang pintar belajar sesamanya dan juga seterusnya, ditambah lagi dengan
sistem perekrutan siswa baru pada beberapa sekolah yang menerapkan sistem “tes
penerimaan siswa baru” membuat anak didik yang belum mampu segi pengetahuan
semakin tersudutkan, dan itu sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Negara
dengan peringkat terbaik pendidikan dunia saat ini umpamanya; Finlandia, Australia,
Jepang, Korea Selatan dan lain sebagainya. Karena factor pemilahan peserta
didik dengan cara diatas dengan sendirinya telah menjerumuskan lembaga
pendidikan kita pada “sifat tidak adil” terhadap keberagaman
kemampuan anak didik yang lahir sebagai fitrah diberikan Tuhan kepada manusia, kesalahan
itu terletak pada sistem evaluasi pendidikan saat ini tolak ukur penilaian yang
biasa digunakan hanya dalam ranah Intelectual Quotient (IQ) saja,
padahal ada tiga kecerdasan lagi yang sering terlupakan yaitu Emotional Quotient
(EQ), Spiritual Quotient (SQ) dan Adversity Quotient (AQ), padahal
kalau dilihat dari tingkat keberhasilan anak didik saat selesai pendidikan dalam
sebuah riset yang pernah dilakukan oleh Emotional Quotient
Inventory (EQi) sebuah lembaga yang mengumpulkan data-data orang-orang yang
sukses di muka bumi yang hasilnya kecerdasan inteletual atau Intelectual Quotient (IQ) hanya
berperan 06% atau paling maksimal 20% saja seseorang mampu meraih keberhasilan,
selebihnya dipengaruhi oleh kecerdasan-kecerdasan lainnya. Coba banyangkan
apa yang terjadi apabila lembaga pendidikan kita hanya mengandalkan satu tolak
ukur kecerdasan saja terhadap prestasi peserta didiknya, mau dibawa kemana
mareka dalam pertarungan dunia globalisasi kedepan?.
Untuk itu, seorang pendidik harus mampu memanfaatkan
murid yang dianggap cerdas dalam sesuatu
bidang untuk membantu gurunya dalam menjelaskan pengetahuan yang sudah dimiliki
kepada sesama teman belajar, sehingga interaksi sosial antara sesama peserta didik
terlatih sejak mareka di dalam kelas, akhirnya sifat ego dan saling
menyingkirkan akan hilang dengan sendirinya. Itulah penerapan nilai-nilai Islam
yang tidak saling putus interaksi dan berbagi ilmu antara sesama, karena untuk
mencapai sebuah prestasi besar tidak hanya dilakukan oleh sebagian orang semata
namun ada orang lainya yang mendukungnya begitu juga dalam dunia pendidikan
sangat dipengaruhi oleh interaksi bersama antara guru dengan murid dan juga murid
dengan samamanya. Begitu juga contoh ajaran Islam untuk menggapai Syurga yang
tidak dilakukan oleh satu orang semata namun harus dilakukan secara hablum minannass
dengan juga tidak mengesampingkan hablum minallah.
Bodoh tidak sama dengan gagal, pintarpun belum tentu
sukses. Itulah realita yang sering terjadi, itulah sebabnya tidak ada manusia
bodoh mungkin saja ia sedang salah jalan, atau belum tepatnya metode belajar
yang ia dapatkan. Allah Swt menciptakan manusia dengan membekali bakat dan potensi
sebagai bekal hidup di bumi, “bakat adalah apa yang dimiliki manusia dan
dianugerahkan Tuhan sebagai potensi (Kenneth Wydro)” untuk itu tugas orang
dewasa (orangtua dan guru) harus mampu menggali dan mengembangkan bakat dan potensi
yang diberikan tersebut. Dalam pengembangan tersebut tentu bukan saja menjadi
tanggung jawab ia secara individu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama
semua orang. Minimal ada beberapa hal yang harus dilakukan pendidik untuk dalam
mengajar. Pertama; ia harus mampu menemukan tipologi belajar peserta
didik, karena pada dasarnya mareka memiliki tipe belajar yang berbeda-beda
dengan itu pendidik lebih mudah mengajarkan peserta didiknya dengan cara yang
tepat, kedua; pendidik harus sering berinovasi dalam penggunaan
pendekatan, model dan metode belajar, karena keberagaman metode belajar sangat
membantu siswa untuk menyerap pelajaran, ketiga; sekali-kali terapkan
pembelajaran dengan model kooperatif learning karena dapat membuka
peluang siswa untuk belajar mandiri dan menenukan cara belajarnya masing-masing,
keempat; jadikanlah mareka sebagai teman belajar karena pembelajaran
akan lebih bersifat Aktif, Interaktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan
apabila dilakukan dengan santai dan suasana kelas yang mencair atau tidak
menegangkan, biarlah pembelajaran berlaku minimalis yang penting
hasilnya maximalis, terakhir; kuasai semua ilmu pendukung pembelajaran, baik
itu metode mengajar, psikologi, filsafat, dan lain sebagainya.
Disamping itu sebagai “peserta didik” juga harus
berusaha menemukan metode belajar yang cocok dengan tipe belajar yang dirasakan,
berusaha temukan potensi yang ada dalam diri sehingga lebih mudah untuk
dikembangkan, sering belajar dari pengalaman orang-orang sukses seputar kita atau
memperbanyak bacaan tentang pengalaman orang lain, tingkatkan belajar otodidak
dalam bidang apapun yang diminati, karena hampir sebagian besar keberhasilan
seseorang belajar yang sukses dibarengi dengan otodidaknya ia belajar, yang
terakhir sebagai muslim jangan lupa berdo’a untuk ilmu yang ingin didapatkan,
karena do’a merupakan jarak terdekat antara seseorang dengan Tuhannya, do’a
dapat menembus segala penghalang antara hamba dengan sang Khaliknya. karena
ilmu berasal dari Allah Swt, sangat layak bagi kita meminta dan memohon kepada
sang yang memiliki ilmu agar terhindar dari sifat-sifat yang tidak diridhaiNya
dalam penggunaan ilmu tersebut dan membantu memesiumkan kata-kata bodoh pada
masa yang akan datang.
Tulisan ini pernah dimuat pada majalah Lentera STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh Tahun 2017

Komentar
Posting Komentar